#NulisRandom2017

Gadis Virus (Bagian 2)

Posted on

Sisi tak menoleh waktu kerikil sebesar kelereng menyentuh punggungnya dengan keras. Permintaan maaf gadis kecil yang rupanya tak sengaja melempar kerikil itu pun tak dipedulikannya. “Kak Sisi ngga marah, kan? Kak…aku ngga sengaja tadi. Aku cuma…” Kalimatnya perlahan lenyap ditelan dinding yang membatasi gang sempit di mana Sisi terus melangkah. Kecipak air dari lubang jalan yang terinjak kakinya membasahi sepatu yang baru dua hari yang lalu dengan cermat dibersihkannya dari kotoran. Pintu tempat tinggalnya telah nampak dari kejauhan. Ia ingin segera meraihnya. Genangan air akibat saluran pembuangan yang mampet harus dilewatinya perlahan. Jumlahnya makin lama makin banyak. Membuat kesal yang dirasakannya kian membuncah.

Terlalu tinggikah cita-cita ini hingga perusahaan ke-6 yang aku datangi untuk wawancara hari ini tak satu pun menganggapku sebagai manusia? Sisi menorehkan sebaris kalimat di buku hariannya sesampainya di rumah. Sayur bayam dingin dan bakwan jagung sisa sarapan tersimpan rapi di bawah tudung saji. Selera makan Sisi mati sudah. Ditinggalkannya meja makan dan buku hariannya di atas meja. Ia harus segera mencelupkan kepalanya yang hampir mendidih ini ke dalam bak mandi sekarang. Atau, emak keburu datang dan mengiranya mencoba bunuh diri.

Sisi menyambar handuk yang sejak pagi dibiarkan tergeletak di tempat tidurnya. Secepat kilat tanpa peduli gerakannya akan membahayakan benda-benda di sekitarnya.

Kalau saja bukan karena cicak yang melesat di hadapannya bak meteor yang siap menyerang, mungkin Sisi tak akan pernah menemukan kenyataan bahwa hidup bukanlah pertunjukan ketidakadilan seperti yang dirasakannya hari itu. Hidup juga bukan ajang persaingan tak sehat di mana uang menempatkan dirinya sebagai raja lalim yang tak berpihak pada penghuni rumah kontrakan sempit seperti dirinya. Bukan.

Sehelai amplop melayang ringan seolah siap menjadi tikar terbang bagi seekor cicak yang bergerak cepat di dinding. Ia lepas ke udara bersamaan dengan ayunan handuk Sisi. Tepat di atas pintu kamar tidur Sisi dan emak. Tak ubahnya tikar terbang, lajunya lambat menuju lantai. Ujung kanan dan kirinya bergantian naik turun diayun angin yang sebelumnya terasa panas di wajah Sisi. Hingga akhirnya ia mendarat mulus nan elegan dengan posisi terlentang diagonal terhadap pintu kamar. Meninggalkan cicak yang tak lagi nampak di dinding. Benarlah demikian kiranya bila Sisi diminta menggambarkan betapa syahdu pertemuan pertamanya dengan sepucuk surat yang mengubah hidupnya hari itu. Sehelai kertas yang mampu memindahkan dunianya yang sempit di ujung gang penuh balita dan anak sekolah ke kehidupan  perkantoran nan sejuk dengan bunyi ketuk sepatu di atas karpet dan gerak lembut jari di atas keyboard laptop sebagai iramanya.

Siang itu langit mendadak putih kebiruan tanpa gumpalan awan. Sisi menangkapnya sebagai pertanda baik. Dilipatnya surat pemberitahuan dari PT Arga Mulia bahwa dirinya diterima bekerja mulai bulan depan. Jendela kamar yang semula terbuka agar ia dapat memandang tiap huruf dalam surat tanpa terlewat dengan jelas ditutupnya perlahan. Sambil berbaring di kasur, Sisi mereka-reka kalimat seperti apa yang akan disampaikannya kepada Emak sore nanti.

‘Mak, aku punya kejutan buat Emak’, atau ‘sebentar lagi, Emak tidak usah menanggung hidupku lagi’, atau ‘doa Emak selama ini terkabul’, bagaimana kalau ‘tidak sia-sia Emak menyekolahkanku selama ini’.

Sore yang ditunggu tiba. Seperti biasa, sepulang kerja Emak meletakkan tasnya di tempat tidur dan bersiap mandi. Hal yang istimewa terjadi sore itu. Seseorang melompat keluar dari persembunyiannya di balik pintu kamar, memeluknya sambal berkata,”Mak, aku diterima Maaaak….aku diterima!” Emak yang masih kebingungan berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir ambruk. Tanpa bertanya ia membalas pelukan gadisnya. “Sisi nggak sabar nunggu bulan depan Mak! Sisi bakal ngantor!”

Emak menyambar surat yang diserahkan Sisi. Tidak salah lagi, Sisi akan mulai bekerja di daerah perkantoran elit pusat kota mulai bulan depan. Sebagai office girl. Sama seperti dirinya.

Emak mempererat pelukannya. Dalam hidupnya, Emak meyakini bahwa kebahagiaan selalu berawal dari sesuatu yang sederhana. Seperti kebahagiaannya hari ini. Pipinya membasah.

 

Bersambung….

Iklan

Gadis Virus

Posted on

Bagian Satu

Apa yang ada di pikiranmu saat seseorang mengatakan bahwa dirinya ingin membersihkan isi kepalanya darimu, katamu suatu hari padaku. Kau akan menganggap dirimu adalah virus, jawabku kemudian. Sebab bila kau menganggap dirimu alien, tentunya kau adalah jenis yang sulit untuk sekedar dibersihkan. Kau haruslah ‘dimusnahkan’. Terlebih, alien memiliki konotasi sebagai makhluk yang datang dari luar bumi, sementara dirimu tak ubahnya dirinya, sama-sama tinggal dan dilahirkan di bumi.

Meski tak nampak tanpa bantuan miskroskop, kau akan cukup berbahaya. Kau mampu memaksa tubuh inang yang kau tumpangi meningkat suhunya secara drastis. Kau memperbanyak dirimu dengan cepat. Kau tak butuh makanan, karena setiap inang yang kau tumpangi akan membantumu berkembang biak. Kau tak ubahnya makhluk tak tau diri yang merasa dirinya penting sementara sesungguhnya kau sedang menghancurkan pemilik sel inangmu perlahan. Di akhir analisaku tentang keberadaanmu baginya, kau mendesis kesal.

Pernahkah kau bertanya sejak kapan ia menyadari bahwa dirimu adalah virus baginya? Kau berkata sejak awal bertemu yang kemudian kau ralat tentunya tidak. Lalu? Kau mulai ragu dengan ingatanmu. Kejadiannya sudah agak lama, katamu. Agak lama adalah tenggat waktu yang menyebalkan, kataku. Baiklah, pertama kali bertemu, kami tak ubahnya Adam dan Hawa, sepasang makhluk Tuhan pertama di muka bumi yang lahir untuk dipertemukan sebagai jodoh. Lalu? Aku setengah tak sabar dengan perumpamaannya yang bombastis itu. Namun kulihat kau tersenyum mengingatnya. Kami kemudian mengukuhkan diri sebagai sepasang kekasih walaupun prinsip kami berbeda. Bah, kataku. Apa pula itu prinsip? Di hadapanmu, seekor kucing melintas. Kau melirik sebentar sebelum kemudian seperti mendapat ide. Begini, katamu memulai. Aku menyukai kucing karena wajahnya lucu, bulunya lembut, dan gayanya yang manja tapi sombong ataupun sebaliknya. Aku akan memberinya segala yang kucingku butuhkan karena jika aku menjadi kucing akupun akan menyukai majikan yang memperhatikan kebutuhanku. Sementara ia menganggap bahwa kucing perlu dipelihara karena keyakinannya bahwa mereka akan memberinya rizki lebih dan menghindarkannya dari marabahaya di kehidupan yang makin tak menentu ini. Ia berpikir bahwa makhluk ataupun benda tak perlu disukai agar dapat diambil manfaatnya. Ia hanya perlu ada.

Hanya itu?

Alih-alih memberi contoh lain, pandanganmu justru menerawang jauh. Seolah berbicara pada diri sendiri kau katakan bahwa seharusnya kau menyadarinya sejak awal. Harus kukatakan bahwa kali ini kau tak seperti biasa. Meski kalimatmu bernada penyesalan, wajahmu tidak. Kau justru seperti menertawakan dirimu sendiri. Entah kemenangan atau kekalahan. Yang jelas, aku sering tak mampu menjangkau alam khayalmu. Kau terbang terlalu cepat meninggalkan tubuh dan langit malam yang menaungi kita saat itu. Langit yang padanya kau temukan bagian dari dirimu yang lain. Bagian di mana seseorang telah menganggapnya sebagai virus.

Bersambung…