Hedonisme (Milik Siapa) ?

Setelah beberapa hari mendung, ternyata Jakarta panas lagi !

Melewatkan hari dengan hawa panas di Jakarta memang paling enak ngadem di rumah sambil nonton tv. Pagi hari seperti biasa serial Law and Order di Fox Crime setia menemani. Mestinya, setelah itu Crime Scene Investigation jangan sampai ketinggalan. Tapi entah mengapa, tangan ini justru mengalihkan channel tv ke sebuah siaran langsung tentang bincang-bincang perilaku politisi negara ini (hufftt..). Dan aku mendengarkan. Seperti biasa dengan hati miris.

Perbincangan itu menyoal masalah perilaku hedonis anggota dewan terhormat negri ini. 2 orang pembawa acara hari itu ditemani 2 orang nara sumber. Yang satu (lebih muda), terus terang aku yang memang kurang sering menonton siaran serupa tidak pernah tahu perannya di pemerintahan. Tapi aku percaya dia orang yang cukup berkompeten. Kalau tidak tentunya tidak diundang. Yang lebih tua adalah seseorang yang pastinya terkenal bukan hanya karena kiprahnya di dunia politik tapi juga di ranah hukum tanah air dan juga sinetron tanah air !

Aku sempat tertinggal beberapa menit karena aku memang tidak pernah menjadwalkan menonton acara serupa. Jadi telat pun tidak apa. Rupanya pembicaraan sedang hangat-hangatnya mengupas masalah para pejabat anggota dewan yang terhormat yang ‘ketahuan’ bergaya OKB (Orang Kaya Baru). Latar belakang sebagian orang yang dibicarakan ini menurut nara sumber sangat jauh beda keadaan ekonominya dibandingkan setelah menjabat posisi anggota dewan. Wajarlah menurutku, masak iya untuk menjadi anggota dewan harus kaya terlebih dahulu.
Pembicaraan bergulir ke arah kesan ‘hedonis’ yang terlihat dari para OKB itu maupun yang bukan OKB. Aku mencari arti hedonis supaya tidak terjadi kerancuan dalam mengikuti acara ini. Menurut kamus Merriam Webster, hedonism yaitu : (1) the doctrine that pleasure of happines is the sole or chief good in life, (2) a way of life based on or suggesting the principles of hedonism. Dengan kata lain, segala prinsip yang mempercayai bahwa kemewahan adalah pencapaian hidup. Kira-kira demikian.

Dan mereka, para petinggi itu, telah memberikan contoh penerapan kehidupan hedonis, katanya. Sehingga lambat laun, yang dikejar oleh orang-orang yang seharusnya bekerja oleh rakyat adalah sebuah k-e-m-e-w-a-h-a-n ! Mmmm…sepertinya masuk akal. Meskipun kesan sepihak makin lama makin terlihat dari cara sang narasumber membeberkan satu per satu contoh-contoh konkrit kehidupan glamour pihak yang sedang dibicarakan itu. Mengapa sepihak, karena sebenarnya kalau kita mau jujur, Jakarta adalah kota yang paling banyak OKB nya. Gaya OKB dapat ditemui hampir setiap hari disetiap pelosok Jakarta. Yang mencaci banyak, yang berusaha mendapatkan untung dari keberadaan mereka juga banyak. Kehidupan ‘hedonis’ yang mereka ciptakan bersinergi dengan lingkungan sekitarnya.
Ok, aku setuju kalau ada pendapat bahwa pembicaraan di tv kali ini menghangat karena sang pelaku ‘hedonis’ adalah dari kalangan yang semestinya membela kepentingan rakyat banyak termasuk diantaranya adalah memberikan teladan dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari. Bukan mempertontonkan kemewahan.

Beberapa hal kemudian bermunculan di pikiranku selama menonton acara ini :

1. Benarkah ‘hedonisme’ baru kali ini menjangkiti para anggota dewan terhormat negara ini.
2. Dapatkah ‘hedonisme’ mendadak hinggap bak penyakit pada tubuh dewasa para anggota dewan.
3. Mestinya dapat dicari sebuah tolok ukur untuk kata mewah dan sederhana dalam ranah kehidupan para petinggi negara sehingga cap hidup bermewah-mewah bukan sekedar sinisme tapi sesuatu yang harus dicari jalan keluarnya.

Untuk nomor 1 dan 2, berdasarkan pengalamanku sebagai anak, remaja, dewasa, pekerja / pesuruh, serta ibu rumah tangga, aku mesti bersaksi bahwa ‘hedonisme’ bukan datang tiba-tiba. Terus terang, wacana ini sudah dibawa oleh ibuku ke hadapanku sejak aku sekolah dasar. Larangan beliau untuk merayakan hari ulang tahun dengan mengundang teman makan-makan, larangan untuk tidak begitu saja membeli mainan yang tidak jelas kegunaannya selain hanya karena teman sekelas hampir semua memiliki, dan lain sebagainya. Pada intinya semua yang berhubungan dengan membeli atau ingin memiliki benda-benda / melakukan kegiatan yang dekat dengan kehidupan mewah dan glamour itu adalah ‘hedonisme’. Dan ibuku dengan keras melarangnya.
Waktu bergulir dalam hidupku hingga ada suatu waktu aku menyadari bahwa rupanya ibu tidak selalu sanggup melawan arus hedonisme yang ternyata melaju begitu dahsyat bersama dengan majunya sistem kapitalisme negeri ini. Yang terekam di kepalaku hingga saat ini adalah, hedonisme bisa jadi datang sebagai paket pelengkap sistem kapitalisme. Entah benar atau tidak. Tapi itulah yang aku rasakan.

Tahun 1999 adalah tahun pertama aku bekerja di Jakarta. Kota sejuta harap, kata sebagian besar angkatan kerja waktu itu. Kehidupan hedonis makin jelas dihadapanku bukan lagi menjadi kebanggaan, tapi telah menjadi nafas hidup. Aku terperanjat sekaligus girang, sekarang tak akan ada lagi alasan untuk melarangku berlaku serupa. Toh, ini bagian dari perilaku keseharian. Pikiran itu melayang-layang kala aku membayangkan kegiatan membelanjakan gaji hasil kerjaku di Jakarta. Tahun itu, aku mendapatkan pembenaran atas segala larangan yang berlaku atas hidupku selama ini.
Pertanyaanku saat ini. Kalau 11 tahun yang lalu saja hal seperti itu sudah dapat aku rasakan, wajarkah hari ini 2 orang pakar membicarakan tingkah laku ‘hedonis’ kalangan tertentu ? Kalau acara tv tersebut dengan sengaja dibuat untuk menarik minat penonton saja melalui komentar-komentar panas baik dari narasumber maupun masyarakat melalui telepon yang disiarkan online demi mendongkrak rating acara, bukankah hal semacam itu juga bagian dari pengejaran harta / kemewahan juga ? Saya cuma bisa berharap suatu saat nanti stasiun tv tersebut akan mengundang pakar pendidikan untuk menjabarkan dengan lebih jujur bagaimana hedonisme dapat berurat berakar di generasi muda bangsa ini dan bagaimana penanggulangannya. Karena tentunya, anggota dewan terhormat bangsa ini mengalami proses untuk dapat disebut sebagai pemuja hedonisme saat ini. Sementara itu, puluhan juta anak-anak perlu mendapatkan pengertian yang utuh dari orang tuanya tentang bagaimana sebuah hedonisme mesti ditempatkan dalam kehidupan mereka. Karena merekalah yang sekian tahun lagi akan memegang tampuk kepemimpinan anggota dewan kehormatan negeri ini.

Selesai berkutat dengan ‘hedonisme’, sekarang waktunya berkebun, Diary…
Siapa tahu, menghirup segarnya oksigen pemberian Allah SWT bersama kawan-kawan hijauku di kebun dapat lebih mendekatkanku pada kehidupan alam yang saat ini urgency nya sedemikian tinggi untuk dijaga…sembari berharap bahwa kelak suatu hari nanti ‘hedonisme’ yang berseliweran di kepalaku saat ini kepentingannya dapat berpihak pada pelestarian lingkungan hidup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s