Ketika Janji Terucap…

Seminggu yang lalu, Bang Sardi, tukang rumput yang biasa aku suruh membersihkan halaman rumah itu terlihat murung. Aku tidak berani bertanya. Pagi itu aku melihatnya duduk melamun di samping kebun pisang milik tetanggaku. Mungkin ia sedang beristirahat sejenak sambil melepas lelah setelah membantu tetanggaku merapikan kebunnya. Ia tak menyapaku seperti biasa ketika aku lewat didepannya.

“Amir, anak bang Sardi yang putus sekolah setahun yang lalu menagih janji bapaknya untuk sekolah lagi tahun ini, Bu,” ujar Surti. Aku menunjukkan pandangan ‘mengerti’ padanya.
Sebulan yang lalu bang Sardi meminjam sejumlah uang padaku untuk membayar uang kontrakan rumahnya yang sudah ditagih oleh pemiliknya. Tunggakannya sudah 3 bulan katanya. Pemilik rumah tersebut mau menikahkan anaknya, jadi uang kontrakan itu diharapkan dapat meringankan sedikit beban biaya pernikahan anaknya. Aku tidak diberi banyak pilihan. Bebanku sebenarnya cukup banyak bulan itu. Tapi tak sanggup aku menolaknya. Ini bukan hutang pertama bang Sardi. Meski demikian, ia adalah seseorang yang selalu berusaha menepati janjinya. Tidak perduli berapa banyak jumlah hutangnya, ia selalu berusaha mengembalikannya secepat mungkin. Paling tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Kesahajaannya membuatku percaya padanya dan segera memberikan sejumlah uang yang ingin dipinjamnya tanpa menanyakan kapan ia sanggup mengembalikan. Sedang keluarga dengan penghasilan jauh diatas keluarga bang Sardi saja menurut pengalamanku selama ini cukup banyak yang tidak dapat dipercaya dalam hal pengembalian hutang. Bang Sardi lain. Diam-diam aku menaruh hormat padanya. Walaupun nasib baik rupanya belum juga berpihak padanya.

Aku ingin membantunya sekali lagi. Kubuka buku tabungan yang sudah cukup lama tidak pernah lagi kutengok sejak aku berhenti bekerja. Angka yang tercantum di buku itu pastilah bukan lagi jumlah yang sesungguhnya. Tidaklah mudah bagiku untuk mempertahankan jumlah tabungan setelah berhenti bekerja karena berhentinya pasokan dana ke rekening gajiku bekerja di kantor tidak berarti kebiasaanku berbelanja berhenti juga. Payah.
Ok, aku harus ke bank, atau paling tidak mengecek saldonya melalui mesin ATM.

“Istri bang Sardi bercerita kalau anaknya tidak mau makan seandainya tahun ini ayahnya tidak menepati janjinya,” Surti seperti mengerti tindak tandukku yang mulai mempersiapkan diri untuk memberikan bantuan sekedarnya untuk keluarga bang Sardi. Surti, entah dari mana selalu update untuk urusan berita terkini semacam ini. Telinganya seolah ada dimana-mana. Tapi ia tidak suka mengabarkan berita yang belum jelas kepastiannya. Mungkin karena tidak ada rating yang ia kejar.

Tidak banyak yang dapat kuberikan kepada bang Sardi kali ini. Tapi tak apa, sesudahnya aku akan menghubungi beberapa teman yang kiranya bersedia juga memberikan bantuan. Siapa tahu nanti ada yang bersedia membantu pembayaran uang bulanan Amir, anak bang Sardi sekalian. Anganku melayang. Ah, seandainya aku masih bekerja seperti dulu. Kuhapus angan yang selalu setia menghampiriku disaat-saat seperti ini. Menggodaku seolah aku target yang belum juga berhasil dipacarinya.

Aku sudah hampir tiba di rumah ketika kulihat beberapa warga di komplekku berduyun-duyun ke arah rumah bang Sardi. Kulihat bendera kuning yang terbuat dari kertas minyak terpasang di mulut gang kecil dekat rumahku. Ya, gang kecil itu jalan menuju rumah bang Sardi.

Hingga saat ini, aku percaya satu hal tentang alam dan kehidupan di dalamnya. Alam diciptakan Allah SWT sebagai sahabat setia manusia. Ia tak pernah lelah menanti manusia meletakkan harapan tertinggi atas hidupnya. Turut mengiringi segala usaha dan kerja keras manusia untuk meraihnya. Dan senantiasa membalas seluruh kebaikan yang diterimanya dari manusia.

Bang Sardi, pria berusia 40 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya hari itu. Serangan jantung yang tidak menyediakan waktu bagi keluarganya untuk mempertanyakan kapan Amir, anak satu-satunya dapat bersekolah lagi. Namun, alam punya caranya sendiri untuk mengatakan kepada makhluk Allah SWT bahwa tidak ada kebaikan yang tidak terbaca olehnya. Seorang pengusaha muda yang baru saja pulang dari ibadah haji memberikan sebagian sedekahnya untuk keluarga bang Sardi di hari yang sama. Sedekah yang mampu dipergunakan untuk membiayai sekolah Amir yang masih SD hingga lulus SMA.

Bang Sardi kini telah beristirahat dengan tenang. Selama hidupnya ia selalu berusaha menepati janji. Hingga di saat terakhirnya, alam memberikan apa yang selama ini diberikan bang Sardi pada kehidupan, yaitu jawaban akan sebuah janji.

Maha Suci Allah SWT…

Jakarta, 23 November 2011

Iklan

2 thoughts on “Ketika Janji Terucap…

    kimsanada said:
    November 25, 2011 pukul 10:52 am

    Subkhanallah..
    Terharu bacanya..

      nastitidenny responded:
      November 25, 2011 pukul 11:18 am

      Banyak hal berharga Allah tunjukkan bagi kita di bumi ini. Subhanallah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s