Libur » Yes, Boros » No !

Hai Diary,

Siapa sih yang ga suka weekend ? Ada ya ?

Buat yang kerja, pastinya lega luar biasa ya kala weekend tiba. Membayangkan kasur empuk, bantal guling, plus bangun siang. Itu buat yang masih jomblo ya… Buat yang udah beranak pinak asyik juga, karena weekend berarti lebih banyak waktu buat keluarga. Hang out bareng… Ups ! Aha, itu dia ! Hang out pas weekend. Ga cuma weekend, tapi pada seluruh hari libur ! Ya libur itu sungguh sebuah kata magis. Betapa tidak, begitu yang namanya libur itu hadir di kehidupan sebuah keluarga dengan seorang, dua orang atau bahkan lebih anak, itu berarti…simsalabim abrakadabra, kantong bolong !!

Besarnya lubang di kantong menurut survey asal-asalan selama ini tergantung pada beberapa hal dibawah ini :

1. Jumlah anak
2. Lama hari libur
3. Hari libur itu dalam rangka memperingati apa (misal : hari libur sekolah dan hari libur lebaran menyebabkan lubang di kantong lebih besar dibanding hari libur yang lain)
4. Kota tujuan untuk berlibur (bagi orang Jakarta, berlibur ke Anyer jauh dong bedanya sama ke Bali)

Mungkin tidak semua orang risau dengan keadaan semacam ini. Tapi, untuk “new” housewife yang sedang menikmati masa desperadonya karena pengeluaran yang tetap cenderung membesar sementara pemasukan menyusut, libur menjadi hal yang patut dicermati, disiasati dan ditindaklanjuti (udah mirip pejabat belum ya…).

Nah, sepertinya langkah-langkah dibawah ini patut dicoba :

1. Membicarakan dengan anak-anak tentang rencana liburan sebelum hari libur itu tiba. Kalau anak-anaknya masih balita, lebih mudah mestinya karena anak-anak belum begitu berkembang imajinasinya yang biasanya membuat mereka lebih pandai bertahan pada keinginan atau pendapatnya. Setahuku dalam bahasa Perancis kebiasaan ini disebut ‘ngeyel’… (Perancis Van Java yaa :))
Anak-anak diatas usia 8 tahun biasanya sudah bisa diajak mengerti tentang batasan budget belanja. Nah, untuk yang seperti ini ga ada jeleknya kalau diajak turut mengerti budget yang tersedia untuk liburan kali ini.
2. Anak-anak dibelikan mainan / dvd yang mereka sukai. Menurutku dvd tidak perlu khusus yang tentang edukasi. Film kartun Disney, menurut pengalamanku adalah film kartun anak-anak yang sarat edukasi meski bukan film berlabel edukasi. Pinter-pinter orang tuanya pilih tontonan yang baik dan sesuai dengan anak-anak aja. Pilihan yang ini membuat anak-anak tidak merasa kekurangan kegiatan di rumah, meski demikian ortu mesti sabar-sabar beberes rumah entah sehari berapa kali karena anak adalah sosok yang sangat kreatif. Semua barang di rumah sudah dapat dipastikan bakal dijadikan mainan…fiuhh.

Terus terang nih, Diary, pilihan no 2 sudah dipraktekkan di rumah, makannya bisa kasih tambahan kata-kata ‘fiuhh’ karena sudah tahu rasanya.
Yang pertama baru akan dicobapraktekkan dalam waktu singkat.

Heyy, hampir aja lupa. Padahal ini yang terpenting. Control yourself ! Yang ini buat ortu..ehm..ehm, buatku maksudnya. Karena, Di, seringkali ortu (macam aku ini) kurang konsisten dengan rencana-rencana besarnya karena ga tega lah, mumpung bisa lah, etc, etc.

Terakhir, wish me luck ya Di…

Jakarta, 11 November 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s