Prioritas Cabai

Ini adalah cerita tentang sebuah hari dimana Surti, pembantu rumah tanggaku tergopoh-gopoh sambil sesekali geleng-geleng kepala pada sebuah pagi seolah ia adalah seorang anggota dewan perwakilan rakyat yang sedang diminta untuk memecahkan sebuah masalah yang sangat pelik segera.

‘Gawat, bu. Kali ini benar-benar sudah tidak dapat dimaafkan lagi ! Keterlaluan !’ Katanya sembari masuk ke pekarangan rumah dan menutup pagar.
Surti biasa berbelanja tiap pagi ke tukang sayur yang mangkal di dekat taman komplek yang cuma berjarak 100 meter dari rumahku.
‘Pasti gara-gara harga cabai lagi nih’ kataku dalam hati. Surti, janda berusia 40 tahun, yang selama ini aku percaya untuk membantu mengelola uang belanja dengan mengandalkan keefisienannya berbelanja sayuran dan teman-temannya kali ini terlihat sangat lebay.

Analisanya tentang harga cabai yang didapatnya dari tukang sayur dan seorang penjahit permak jeans sangat mempengaruhi pikirannya.
“Bayangkan Bu, belum juga lebaran harga cabai sudah selangit begini” katanya.
“Rakyat yang sudah miskin tapi masih bisa bersyukur karena mampu membeli cabai sebentar lagi bakal kehilangan senyumnya”, lanjutnya.
Gara-gara cabai, Surti bukan hanya menjadi pengamat masalah perekonomian dadakan, tapi juga sastrawati kagetan. Kata-katanya kian hari kian berbunga-bunga, meski bunganya adalah bunga layu karena bercerita tentang kesedihan.

Kali ini aku mesti buru-buru menyadarkannya bahwa tugasnya saat ini lebih pada pengadaan lauk pauk di meja makan keluargaku, bukan menjadi pembicara seminar ‘kenaikan harga cabai’.
“Sur, apapun yang terjadi, uang belanja jumlahnya masih tetap, sementara makanan yang terhidang di meja juga mesti tetap memenuhi selera seperti biasa,” kataku menyela analisa perekonomiannya.
“Jadi, mau tidak mau, kurangi dulu masak lauk pedasnya. Toh kita tidak mati juga tanpa sambal dan rendang. Yang penting protein untuk anak-anak terpenuhi,” tandasku.
Surti sepertinya mengerti arah pembicaraanku sebelum akhirnya ia menimpalinya dengan berkata,”Tapi Bu, biar daging atau ayam yang dimasak cukup tapi kalau tidak dimasak pedas mana ada yang mau makan ?”
Ah, Surti…Surti, masih saja ia mengharapkan tambahan dana uang belanja demi menyajikan lauk pauk pedas seperti biasa.
“Sur, dimana-mana, tidak ada orang mati gara-gara kekurangan makan cabai”.
“Maksud saya bukan begitu Bu. Saya mengerti prioritas yang Ibu inginkan”.
Prioritas ? Surti bisa bicara prioritas ? Apa itu juga dari tukang sayur dan penjahit ? Kerasukan siapa orang ini.
Seperti dapat membaca keherananku ia melanjutkan,”Biar saya lulusan SD tau sih bu masalah prioritas. Jadi, menurut obrolan Yu Ipah dan Mbak Marni yang sering saya dengar, prioritas majikan mereka saat ini juga berubah, jadi beda gitu Bu. Nah, yang repot, karena prioritas baru ini berbeda dengan prioritas kami-kami ini Bu”.
“Sur, kalau pakai kata-kata baru jangan sembarangan. Mesti tahu betul artinya.”
“Lah, memangnya saya salah ya Bu ?”
“Kalau pakai kata-katamu sendiri, nggak usah pakai istilahnya Yu Ipah sama Mbak Marni, maksud kamu tadi gimana, Sur ? Bukan meragukan atau bagaimana, tapi tidak sedikit loh Sur, orang-orang di negeri kita ini yang kurang tepat menempatkan kata dalam sebuah kalimat. Bukan hanya orang rumahan seperti kita ini, bapak-bapak para pembesar itu saja masih sering keliru.”

“Jadi maksud Surti begini, Bu. Kalau Ibu, Bapak dan anak-anak kan sejak kecil sudah lebih mengerti masalah gizi. Jadi ‘prioritas’ nya tidak tergantung pada jenis masakan tertentu. Nah, kalau saya sama Ipah dan Marni kan dari desa Bu, lidah udah susah pisah sama cabai. ‘Prioritas’ kami itu ya cabai dan masakan dengan cabai…”.

Wanita paruh baya yang telah lebih dari 5 tahun bekerja di rumahku itu menatapku penuh harap setelah uraian singkatnya tentang kosa kata canggih terbarunya yaitu ‘prioritas’.
“Sur,” kataku sabar,”yang dimaksud barusan ‘selera’ kali ya… Tapi tak apa,” ujarku tersenyum sambil berlalu dari hadapannya.

Pagi itu aku seperti diingatkan akan satu hal. Prioritas rasanya memang diputuskan berdasarkan selera. Pastinya, bapak-bapak yang memutuskan kenaikan harga cabai dan beberapa makanan pokok di negara ini mengerti soal prioritas. Tapi mungkin karena selera mereka sungguh jauh berbeda dengan kami rakyat jelata akhirnya prioritas yang dibentuk pun sungguh sulit kami pahami.

Jakarta wilayah pulau kapuk, 20 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s