Rindu Tatapan

Jakarta mendung, Diary…

Tapi tak apa. Toh sekarang aku sudah tidak perlu pusing memikirkan macet di perjalanan, banjir di beberapa ruas jalan, belum lagi mati lampu tiba-tiba sewaktu mau kirim email penting. Cause I am at home now !

Untuk mengisi mendung hari ini, aku punya kegiatan yang cukup menyenangkan untuk dilakukan oleh ibu rumah tangga baru. Itu adalah : jualan frozen foods. Asyik. Mengapa, karena aku dapat bertemu dan ngobrol dengan banyak teman, berbagi pengalaman, tips, dan segala sesuatu yang tidak akan habis diceritakan oleh seorang ibu. Menenteng cooler box berisi frozen foods mulai dari udang beku hingga beragam dimsum ternyata dalam waktu singkat telah dapat menyita perhatian orang tua murid di sekolah anakku maupun para tetangga. Tetapi ternyata tidak semua cerita tentang ngobrol dan bertemu teman ini indah.

Seorang tetangga yang hari ini kebetulan sedang cuti dari tempatnya bekerja memintaku untuk mengirim beberapa kotak tempura udang kesukaan anaknya. Katanya anaknya suka sekali dengan tempura udang yang aku jual. Beda sama yang lain puji anaknya. Ini promosi bukan ya ? Bukan. Eh, iya.

Seperti biasa aku mengetuk pintu rumahnya yang sengaja tidak dipasang bel. Ia tinggal bersama seorang anak perempuan penggemar tempura udang dan seorang pembantu. Tetangga yang satu ini belum lama kukenal. Ia baru sebulan tinggal di komplek dimana aku tinggal. Kami saling mengenal pada sebuah acara pengajian rutin yang diadakan oleh perkumpulan ibu-ibu di RT kami.

Sang ibu dengan ramah menyuruhku duduk sementara ia berganti pakaian. Entah mengapa ia merasa baju yang dipakainya kurang pantas. Keluar dari kamar tidurnya, seorang anak perempuan mengikutinya dari belakang. Ia sangat pemalu, selalu berusaha sebisa mungkin bersembunyi di belakang tubuh ibunya. Wajar saja menurutku, kan aku bukan orang yang dikenalnya.

Selama kurang lebih 30 menit kami mengobrol panjang lebar tentang selera makan anak-anak, cuaca, dan juga tentang yang satu ini. Tentang ‘kerinduan’.

Teman ngobrolku ini bercerita tentang anak semata wayangnya yang belum dapat diajak bicara diusianya yang ke 6 tahun. 6 tahun, Diary, can you imagine that ? There should be something wrong. Dan memang itulah yang terjadi. Sang anak menderita autisme. Pandangannya menerawang kemana-mana. Meski dalam hatinya merindukan segala perhatian dari sang ibu, ia belum dapat menyampaikannya. Ibunya berkata kepadaku,”kalau saja ayahnya tidak meninggalkan kami begitu saja, kan saya bisa fokus memperhatikan Halimah. Tidak seperti sekarang ini, disaat ia membutuhkan perhatian lebih, saya seringkali tidak berada di sampingnya”. Sambil tersenyum ia memandang anak tersayangnya itu sambil berkata,”Halimaahh…lihat Mama, Nak”. Tangannya yang lembut perlahan merengkuh wajah anaknya untuk dihadapkan ke wajahnya. “Mama sayang Halimah, sekarang lihat tante yang duduk itu. Tante juga sayang Halimah. Semua sayang kamu, Nak. Sekarang, tatap mata tante itu, Nak.”

Duh, Diary, tanpa kusadari, aku sungguh-sungguh berusaha menatapnya dengan penuh perhatian. Mencoba turut merasakan apa yang dirasakan ibunya saat ini.

Diary, hari ini aku tahu, ternyata di luar sana, seseorang sangat merindukan sesuatu yang terbilang simple dan sederhana, yaitu ‘tatapan’. Hal sederhana yang ternyata menjadi barang mahal bila yang diinginkan adalah ‘tatapan’ dari seorang anak kecil yang dianugerahi keistimewaan dari Allah SWT seperti anak tetanggaku tadi.

Siang itu aku berjalan pulang ke rumah masih ditemani mendung yang menggelayut sedari pagi.

Jakarta, 10 November 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s