Sehari Sebelum Lebaran

“Aduh…aduh…gimana ini ?”

Brukk !!

“Arrgghh ! Aww aww…sakiiitt”

“Ya ampuunn…udah buruan dibawa ke rumah sakit”

Takbir yang berkumandang dari Masjid Agung, bersahutan dengan takbir keliling warga sekitar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…laa ilaha ilallahuwallahu Akbar…Allahu Akbar walilla’ilham…

Rumah sakit sepi, tidak seperti hari biasa. Orang-orang bersiap-siap menyambut Hari Raya Idul Fitri yang tinggal menunggu hitungan jam. Hanya seorang anak kecil perempuan yang iseng belajar mengendarai sepeda motor dan kurang beruntung hari itu terpaksa menghuni salah satu kamar di ruang gawat darurat rumah sakit itu.

“Disuntik dulu ya, supaya tidak infeksi”

“Ya, Pak” suaranya parau disela isak tangis penyesalan. Kenapa juga mesti kepingin belajar naik motor, sesalnya.
Kedua orang tuanya mendampingi selama pemeriksaan di rumah sakit atas kakinya yang melepuh terkena knalpot sepeda motor dilakukan. Mereka hanya tersenyum.

“Sakit, Bu. Nggak mesti nginap disini kan ?”

“Kalau mau boleh sepertinya. Biasanya hari gini banyak kamar kosong”

“Nggak mauuuu…” sahutnya bercucuran air mata menanggapi gurauan sang ibu yang dengan tenang menanti perban putih dibebatkan ke kaki kanan anaknya. Membayangkan tidak bisa bermain kembang api bersama saudara-saudara sepupu saja sudah petaka, apalagi menginap di rumah sakit.

“Huuu…huuu…sakiitt,” erangnya manja.

“Nah, sudah selesai nih. Sekarang boleh pulang”

“Hah ? Selesai ? Benar nih ? Alhamdulillah !” serunya sedikit lega.
Berjalan terseok-seok sembari sesekali meringis lebih karena perasaan ngeri melihat sebagian kakinya yang terbakar ketimbang rasa sakit yang sesungguhnya.

“Mau keliling lihat-lihat rumah sakit dulu ? Siapa tahu rasa sakitnya cepat hilang,” kembali ibu menggoda.

Masih dengan wajah cemberut menahan sakit,”nyesel deh latihan naik motor, nggak mau lagi !”

“Yaahh…baru segitu aja udah kapok. Payah nih. Asyik lagi, punya pengalaman unik masuk rumah sakit sehari sebelum lebaran. Jarang-jarang kan…jarang ada yang mau maksudnya,” gantian kakak kali ini yang menggoda,”bisa jadi cerita buat anak cucu nanti…hihihi,” ujarnya masih dengan nada menggoda.

*

Aku meraba kaki kananku persis di bagian bekas luka bakar itu. Sementara canda tawa memenuhi isi kamar tidur anakku yang dengan bersemangat mendengarkan cerita masa kecil ibunya yang pernah belajar mengendarai sepeda motor sehari sebelum lebaran. Kekonyolannya, kesalahan reaksinya pada waktu ingin menghentikan motor, tembok pagar rumah nenek yang ditabrak, pengalaman beberapa jam di rumah sakit, dan lain-lain yang dibawakan dengan ‘riang’ oleh siapa lagi kalau bukan kakakku !

Aku tidak hanya tersenyum, tapi tertawa bahagia mendengarnya.

“Jadi jangan heran kalau sampai sekarang ibumu nggak bisa naik motor,” candanya menutup cerita.

Jakarta, 28 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s