Tanya Ibumu !

‘Tanya ibumu !’ Suara kasar terdengar sampai ke telingaku siang itu yang sedang berdiri di dekat lampu merah sebuah perempatan jalan yang penuh dengan mobil lalu lalang. Seorang anak perempuan berbaju kumal menengadahkan tangannya setelah mengetuk jendela mobil sebuah taksi tanpa penumpang. Tak ada ekspresi kecewa, ataupun terkejut di wajahnya demi mendengar teriakan sang sopir taksi.

Iba tak akan menderaku begitu saja seandainya tak ada seorang pemuda disebelahku yang seolah dapat membaca pikiranku berkata,”Tuh anak bisu tuli, tapi masih aja minta-minta di perempatan ini. Susah ditolaknya, kalo kita ga ngasih dianya minta terus.”
‘Oh’ gumamku dalam hati.

Keesokan harinya, di perempatan yang sama tak kutemui anak perempuan itu lagi. Tidak di jalanan. Rupanya ia kelelahan dan beristirahat di bawah pohon tak jauh dari tempatku berdiri saat itu. Kuhampiri ia. Tubuhku melemas kala kulihat ia memangku bayi mungil sambil mengipasinya hingga sang bayi tertidur lelap. Bayi itu sekumal dirinya. Anak siapa yang ia pakai untuk meminta iba orang lain ? Batinku tak karuan. Bayang-bayang pencurian bayi lalu lalang di pikiranku. Seandainya bayi itu adalah anakku, takkan kurelakan ia dimanfaatkan oleh seorang pengemis jalanan seperti ini.
Kakiku melangkah mendekatinya seiring dengan gejolak batin yang tak tertahankan lagi. Meski demikian, tak bisa aku menuduh bahwa bayi kumal yang ada di pelukannya saat ini adalah ‘curian’. Aku berjongkok didekatnya dalam diam. Mencoba untuk tidak mengganggunya. Adiknya kah ? Atau ? Kuberanikan diri untuk memperlihatkan diriku di hadapannya. Ia terkejut, tak memberiku kesempatan bertanya, karena dalam hitungan detik ia telah berlari menjauh. Menyelinap diantara kerumunan manusia yang membanjiri perempatan ramai itu pada jam makan siang.

Aku kehilangan dirinya. Sungguh kusesali pertemuanku dengannya. Bukan karena ia kemungkinan adalah salah satu dari pencuri bayi yang berhasil kabur dari hadapanku. Bukan pula karena aku tak sanggup mendapatkan alamatnya untuk kusampaikan sedikit sedekah dari kelompok pengajian tempatku bergabung. Penyesalanku yang amat dalam adalah demi mengetahui sebuah drama ‘ibu dan anak’ yang berada diluar prasangka apapun yang berada di otakku saat itu.
Tak lama semenjak ia lari dari hadapanku, seorang satpam menghampiriku bercerita bahwa pengemis bisu tuli itu telah lama ditinggal pergi ibunya. Suatu hari ia menemukan bayi merah di tong sampah dekat sungai tempat ia biasa mencuci baju. Rasa iba kepada bayi merah itu mendera batinnya demi mengingat dirinya yang tak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Nuraninya menyangkal segala bentuk ketidakmungkinan dirinya yang nestapa tak dapat menghidupi orang lain. Dipungutnya bayi itu dari tong sampah kemudian dirawatnya hingga kini.

Ya Tuhanku, dunia macam apa ini…

Sampai dengan beberapa hari kemudian, diriku belum lagi berani melewati perempatan ramai itu lagi. Aku belum cukup punya nyali untuk menatap mata sang pengemis muda bisu tuli yang telah membaktikan dirinya untuk menjadi seorang ibu bagi bayi yang terbuang.

Jakarta, 21 November 2011


One thought on “Tanya Ibumu !

    S.Riyadi said:
    Februari 2, 2012 pukul 8:57 am

    Masihkah hati kita beku setelah membacanya, tapi kita harus berusaha jangan jadi pengemis , kalau kita belum belajar untuk berhasil berkarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s