Terkepo Ku Disini

Kepo, bukanlah bagian dari sifatku. Setidaknya itulah yang kuinginkan. Maksudnya, dalam hal tertentu aku pikir sebaiknya tidak dilakukan. Meskipun dalam banyak hal kutemui kenyataan yang berbeda dengan idealisme yang kusebut tadi. Ruwet memang.

Ada waktu dimana kepo sangatlah berarti bagiku. Memang seharusnya demikian. Karena segala hal dimuka bumi ini tidak bisa terlalu baik ataupun terlalu buruk. Tergantung dari mana kita memandang, kapan kita menggunakannya, dan bagaimana kita menempatkannya.

Kepo kukembangkan dengan maksimal kala aku berkecimpung di dunia jasa keuangan. Lebih tepatnya sebagai penjual produk asuransi. Ada alasan kuat untuk mengembangkan ke-kepo-an ku. Yaitu sebagai bahan baku untuk dapat memberikan masukan yang berarti bagi calon nasabah yang membutuhkan produk keuangan yang aku jual. Beberapa kali aku berhasil mendapatkan pembeli dari hasil kepo ku. Aku senang, mereka pun tenang.

Tapi layaknya pedagang keliling, tak jarang aku bertemu dengan manusia-manusia yang unik, mempunyai keinginan yang berlebihan, ataupun jenis yang satu ini.
Lelaki separuh baya yang kutemui kala itu bersikap sangat tenang. Well, terlalu tenang bahkan untuk dijadikan seorang calon nasabah. Tak apa, kalau semua orang seribut aku, apa jadinya dunia ini.
Di ruang penerimaan tamu kantornya aku dipersilakan duduk sebelum memulai presentasi. Seperti biasa aku mempersiapkan diri untuk ber-kepo-ria demi mendapatkan data secukupnya agar lebih mudah menyusun program perencanaan keuangan yang sesuai dengan kebutuhannya. Cukup sulit untuk mengorek keterangan tentang kegemarannya, bagaimana ia menghabiskan waktu luang bersama keluarga, rencananya setelah pensiun, dan lain-lain. Jawabannya singkat-singkat. ‘Ya-tidak’ atau ‘pernah-belum’ adalah kata-kata andalannya. Hampir tidak dapat memberikan gambaran apapun. Aku memutar otakku terus untuk memecah kekakuan ini.

Akhirnya, setelah kurang lebih 1 jam terpasung oleh kekakuan yang ada (bahasanya romantis tapi ga jelas ya..), sang bapak balik bertanya padaku. Suasana sedikit mencair. Percakapan menjadi lebih lancar. Jurang yang membentang selama 1 jam tadi berhasil dijembatani satu per satu. Tanpa kusadari 1 jam berikutnya berlalu. Coretan di buku catatanku belum bertambah juga.

Kepo memang penting untuk menunjang keberhasilan kita di dunia marketing. Namun, hari itu aku belajar satu hal. Sepenting apapun kepo yang sedang kita lakukan, jangan lupa konsentrasi harus tetap dipertahankan. Kalau tidak, akibatnya adalah seperti yang terjadi padaku. Saking bersemangatnya bertanya-tanya dan mengharapkan jawaban standar serta obrolan seru, aku justru terjebak di situasi dimana pada akhirnya aku lah yang menjawab sekian banyak pertanyaan yang diajukannya. Alih-alih percakapan menjadi seperti yang aku harapkan, pertemuan justru berakhir dengan keberhasilan sang bapak menjual laptop seri terbaru keluaran kantornya padaku. Dan sebagaimana akhir kisah sedih seorang marketing gagal, aku tidak berhasil menjual produkku sama sekali kepada sang bapak. Siapa yang jualan waktu itu menjadi pertanyaan absurd bagiku.

Akhir kata : Jangan ditiru ya…(E siapa juga yang mau niru)

Salam kepo !!

Jakarta, 25 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s