Latest Event Updates

Interpreter of Maladies: Menerjemahkan Kegelisahan Imigran India

Posted on Updated on

Interpreter of Maladies adalah karya Jhumpa Lahiri pertama yang saya baca. Dan terus terang saja dibeli tanpa direncanakan terlebih dahulu. Seorang teman yang membuka usaha penjualan buku online menganjurkan buku ini untuk saya beli setelah saya membeli The God of Small Things karya Arundhati Roy yang memenangkan Man Booker Prize tahun 1997. Mungkin dia mengira saya penggemar karya pengarang berdarah India, mungkin juga dia menduga saya mengoleksi karya pemenang penghargaan semacam Man Booker Prize, Pulitzer, ataupun Nobel Literature. Keduanya tidak ada yang tepat sebelum saya membaca Interpreter of Maladies. Namun, saya menjadi seperti yang dia kira setelah rampung membaca kumpulan cerpen karya pertama pengarang berdarah India ini yang di tahun 2000 memperoleh penghargaan Pulitzer Prize.

Berbeda dengan Arundhati yang bergerak perlahan dalam membuka sebuah adegan, Jhumpa Lahiri cenderung berlari memasuki arena cerita yang dibuatnya. Kalimat yang digunakan efisien. Sederhana namun tepat sasaran. Kejelian menempatkan detail yang memperkokoh tulang punggung cerita sangat diperhatikan. Karakter tokoh-tokohnya bebas stereotip. Keputusan yang kemudian justru memunculkan sisi kemanusiaan dari dalam pribadi tokoh dengan baik dan luwes. Bicara tentang karakter, menurut saya, Jhumpa Lahiri adalah salah satu dari sedikit cerpenis yang berhasil menggerakkan cerita melalui kekuatan karakter tokohnya.

Interpreter of Maladies terdiri dari sembilan cerita pendek yang seluruhnya mengambil setting di Amerika, tempat di mana sang pengarang tinggal. Memiliki orangtua yang keduanya adalah imigran dari India, Jhumpa Lahiri mengangkat beragam kisah kehidupan imigran India di Amerika. Masing-masing cerita memiliki keunikan tersendiri. Menggali lebih dalam cita-cita, masa lalu, dan gaya hidup imigran India melalui suara hatinya.

Cerpen pertama yang berjudul A Temporary Matter menjadi kisah pembuka yang manis dan mengharukan. Sebuah pemberitahuan tentang pemadaman listrik selama satu jam dalam lima hari berturut-turut telah mampu mengubah cara pandang sepasang suami istri dalam memaknai kehilangan buah hati yang didambakannya. Cerpen ini adalah salah satu cerpen favorit saya. Suasana rumah tangga yang dingin semenjak bayi yang didambakan meninggal dunia sesungguhnya dihuni oleh hati yang saling menanti kehangatan. Cerita ini menarik bagi saya karena konflik yang terbilang sederhana sanggup dibawakan dengan cara yang berbeda. Tokoh utama pria dan wanita yang merupakan suami istri ini seperti dibebaskan berkehendak dalam menyikapi setiap pergerakan yang terjadi dalam hidupnya. Ia dibekali hati, pikiran dan perasaan saja oleh sang pengarang yang dibiarkan tumbuh dan berkembang seiring waktu. Saya tidak melihat pengarang mengatur urutan adegan, karena cerita seolah bergerak karena digerakkan oleh kekuatan sikap dan pola pikir tokoh. Sebagaimana dapat disimak dari adegan berikut ini.

He refilled the wine in her glass. She thanked him.

They were’t like this before. Now he had to struggle to say something that interested her, something that made her look up from her plate, or from her proofreading files. Eventually he gave up trying to amuse her. He learned not to mind the silences.

“I remember during power failures at my grandmother’s house, we all had to say something,” Shoba continued. He could barely see her face, but from her tone he knew her eyes were narrowed, as if trying to focus on a distant object. It was a habit of hers.

Dan juga bagian berikut.

His heart began to pound. The day she told him she was pregnant, she had used the very same word, saying them in the same gentle way, turning off the basketball game he’d been watching on television. He hadn’t been prepared then. Now he was.

Only he didn’t want her to be pregnant again. He didn’t want to have to pretend to be happy.

Selain cerpen pembuka, cerpen berjudul Sexy juga menarik perhatian saya. Tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang wanita simpanan yang bukan keturunan India. Meski demikian, di perjalanan hidupnya ia terlibat dalam beragam peristiwa yang berhubungan dengan imigran India. Tetangga apartemen sewaktu ia masih kanak-kanak, teman di tempat kerja, dan tentunya yang menjadi ujung tombak konflik yaitu lelaki beristri yang dicintainya. Melalui suara hati Miranda sang tokoh utama, pembaca diajak melihat bagaimana seorang wanita simpanan berusaha mengenal lelaki yang dicintainya lebih dalam. Bagian paling menarik dari cerpen ini adalah bagaimana pengarang menguraikan makna “sexy” itu sendiri. Sungguh di luar dugaan.

Cerpen favorit saya berikutnya adalah dua cerpen terakhir yang diberi judul The Treatment of Bibi Haldar dan The Third and Final Continent. Dua cerpen ini memberi kehangatan tersendiri setelah beberapa cerpen sebelumnya seperti When Mr. Pirzada Came to Dine, Interpreter of Maladies, The Real Durwan dan Mrs. Sen’s menyuguhkan ketegangan beruntun. Bila di tujuh cerpen pertama Jhumpa Lahiri menghadirkan tokoh-tokoh berkarakter dingin dan depresi, pada dua cerpen terakhir, dihadirkan tokoh dengan kepribadian lembut.

Dalam The Treatment of Bibi Haldar, Lahiri secara implisit berbicara tentang bagaimana norma di masyarakat dapat begitu kuat menjadi penjara untuk jalan pikiran seseorang. Penghakiman akan keadaan di luar ‘normal’ akhirnya kerap terjadi. Melalui Bibi Haldar, Lahiri memberi gambaran kuat tentang kebahagiaan yang menanti di belakang atas kesetiaan yang diberikan oleh seorang yang dianggap ‘tidak normal’ di tengah masyarakat. Tak ada kesan cengeng sama sekali. Bibi Haldar digambarkan sebagai pribadi yang gelisah, tak mampu melawan keadaan namun berpegah teguh pada prinsip bahwa dirinya berhak bahagia.

The Third and Final Continent bisa jadi tersusun dari potongan kenangan Lahiri akan pengalaman kedua orangtuanya semasa tinggal di Amerika pertama kali. Kisah manis tentang persahabatan mahasiswa India dengan pemilik rumah kos yang sudah jompo. Pandangan mahasiswa asia yang sekian lama tinggal di Eropa dan Amerika tentang makna pernikahan di negeri asalnya. Cerpen ini menutup rangkaian kisah dalam Interpreter of Maladies dengan indah. Love it!

Cerpen-cerpen dalam buku ini telah dimuat sebelumnya di beberapa media seperti: The New Yorker, The Lousville Review, The Agni Review, The Harvard Review, Salamander, Epoch dan Story Quarterly.

IMG_00000079Judul                     : Interpreter of Maladies

Pengarang          : Jhumpa Lahiri

Tebal                     : 198 halaman

Tahun                   : 2000

Penerbit              : Flamingo An Imprint of HarperCollins Publishers

My Sister’s Keeper: Menakar Keadilan

Posted on Updated on

When I was a little, the great mystery to me wasn’t how babies were made, but why.

Anna Fitzgerald, di usianya yang ke-13, mendatangi sebuah kantor pengacara untuk meminta bantuan melayangkan gugatan pada orangtua kandungnya. Pasalnya, Anna, yang sepanjang hidupnya menjadi donor sumsum tulang belakang Kate, sang kakak yang menderita APL (Acute Promyelocytic Leukemia), merasa tidak pernah dimintai pendapat oleh orangtuanya apakah dirinya bersedia menjadi donor.

Bab pembuka sebagaimana diringkas dalam uraian di atas sempat membuat saya enggan melepas barang sebentar saja novel ini dari tangan saya. Segudang pertanyaan serta merta menghampiri kepala usai membaca pembuka kisah yang terlalu ringan untuk dibilang “sangat menarik”. Mampukah anak berusia 13 tahun berpikir sejauh itu? Pantaskah yang dilakukan orangtua Anna padanya? Bagaimana reaksi sang pengacara menanggapi keinginan Anna?

Jesse dan Kate menjalani masa kecil dengan bahagia bersama kedua orangtua mereka, Sara dan Brian, hingga Kate didiagnosa dokter menderita APL. APL adalah jenis leukemia yang tergolong berat dengan kesempatan hidup yang sangat kecil bagi penderitanya. Kemoterapi dan beragam pengobatan hanya mampu menunda pendarahan yang terjadi secara reguler pada penderita. Meski demikian, Sara tak putus asa mencari beragam kemungkinan untuk memperpanjang usia Kate. Donor sumsum tulang belakang dari saudara sedarah menjadi pilihan setelah kemoterapi tak kunjung memperlihatkan hasil. Belum juga memberikan hasil yang optimal, donor ginjal diusulkan oleh pihak rumah sakit sebagai kemungkinan terakhir bagi Kate. Anna, yang memang dilahirkan dengan tujuan sebagai donor bila Kate membutuhkan, lelah dengan beragam perlakuan medis yang harus dijalaninya semenjak balita demi kelangsungan hidup sang kakak. Ia berniat menolak keinginan orangtuanya mendonorkan ginjalnya untuk Kate.

Kisah kemudian bergulir dengan alur flashback bolak balik di mana pembaca dibawa pada masa lalu Sara, Brian, juga Alexander Campbell (sang pengacara) dan Julia Romano (guardian ad litem Anna setelah gugatan masuk ke pengadilan).  Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam tiap bab secara berganti-ganti antara Anna, Kate, Jesse, Sara, Brian, Campbell dan Julia memberikan gambaran yang kuat baik tentang karakter maupun cara pandang masing-masing tokoh terhadap konflik dalam cerita. Alur bolak balik yang dipakai pengarang tidak membingungkan dan mampu membuat pembaca terus menerus penasaran.

Meski demikian, beberapa hal dalam buku ini saya rasakan mengganggu. Pertama, jenis huruf yang dipakai beragam. Setidaknya ada empat jenis huruf dipakai untuk membedakan tiap bab yang mewakili sudut pandang yang berbeda dari masing-masing tokoh. Sementara tiap bab sudah diberi judul sesuai dengan tokoh yang berbicara. Kedua adalah tokoh Jesse, anak pertama keluarga Fitzgerald. Jesse diberi porsi cukup banyak dalam menggerakkan alur cerita. Namun sayang di akhir tak nampak perannya selain ungkapan perasaannya saja.

Keadilan memang topik yang tak akan habis dibicarakan. Melalui tokoh-tokoh dalam buku ini, pembaca diajak melihat keadilan dari beragam sudut. Pertama, sudut pandang orangtua terhadap anak-anaknya. Apa yang telah diputuskan oleh orangtua adalah yang terbaik bagi anak-anaknya tidak lagi bisa dipandang sebelah mata terutama bila ternyata ketidakadilanlah yang justru dirasakan oleh sang anak. Kedua, sudut pandang anak terhadap orangtua dan lingkungan yang membesarkannya. Kemudian, bagaimana keadilan dimaknai dalam sebuah persaudaraan yang dalam hal ini tidak hanya muncul dari kasus Anna, Kate dan Jesse, tapi juga Sara dengan saudara perempuannya yang kaya raya, dan Julia Romano dengan saudara perempuannya yang lesbian. Dari sekian banyak konflik yang muncul dalam kisah ini, muaranya adalah keputusan hakim tentang gugatan Anna yang tidak akan saya ungkap di sini.

There is way too much to explain-my own blood seeping into my sister’s vein; the nurses holding me down to stick me for white cells Kate might borrow; the doctor saying they didn’t get enough the first time around. The bruises dan the deep bone ache after I give up my marrow; the shots that sparked more stem cells in me, so that there’d be extra for my sister. The fact that I am not sick, but I might as well be. The fact that the only reason I was born was as a harvest crop for Kate. The fact that even now, a major decision about me is being made, and no one’s bothered to ask the one person who most deserves it to speak her opinion – ANNA

I know I jump at every sliver of possibility that might cure Kate, but it’s all I know how to do. And even if you don’t agree with me, even if Kate doesn’t agree with me, I want to be the one who says I told you so. Ten years from now, I want to see your children on your lap and in your arms, because that’s when you’ll understand. I have a sister so I know-that relationship, it’s all about fairness: you want your sibling to have exactly what you have-the same amount of toys, the same number of meatballs on your spaghetti, the same share of love. But being a mother is completely different. You want your child to have more than you ever did. You want to build a fire underneath her and watch her soar. It’s bigger than words – SARA

Jodi Picoult dengan piawai mengolah beragam tema dengan setting dunia medis dan hukum. Setelah membaca buku ini terus terang saya makin penasaran dengan kisah lain yang serupa dari pengarang yang sama. Salah satu yang saya tahu berjudul Handle with Care, yang sekarang sudah bertengger manis di rak buku untuk dibaca 🙂

my sister's keeper 2Judul               : My Sister’s Keeper

Pengarang       : Jodi Picoult

Tebal               : 500 hal.

Tahun              : 2004

Penerbit           : Pocket Books A Division of Simon & Schuster America

Jual Buku Koleksi Pribadi (Bagian 2)

Posted on Updated on

Halo!

Posting jual buku saya ternyata bisa seperti sinetron nih, berseri. Jadi ceritanya beres-beres lemari buku beberapa waktu yang lalu itu masih berlangsung hingga hari ini. Dan ternyata masih ada saja yang perlu direlakan untuk dijual demi memberi ruang untuk buku-buku yang lain.

Sebagaimana yang bagian 1 dulu, kondisi buku masih baik. Plus harga yang dijamin aman terkendali, pas banget buat kalian yang mau nambah koleksi buku di rumahnya 😉

Ini dia buku-bukunya…

Jual Buku Koleksi Pribadi1. The Alchemist (The Secret of The Immortal Nicholas Flamel) – Michael Scott. Harga Rp 25.000,- SOLD

Nicholas Flamel, yang lahir di Paris pada tanggal 28 September 1330, dikenal sebagai Alchemyst termasyur di masanya. Ia berusaha menciptakan ramuan untuk hidup abadi, dan mengubah logam biasa menjadi emas murni. Menurut catatan, sang Alchemyst meninggal tahun 1418, tetapi ketika dibongkar ternyata makamnya kosong.

2. Rindu Purnama – Tasaro G.K. dan A. Fuadi. Harga Rp 15.000,- SOLD

Sebuah novel keluarga yang telah diangkat ke layar kaca.

3. Only You – Lucy. Harga Rp 15.000,-

Aley, Lisa, Sharon, Angki, Alvin dan Danny berusaha merebut kebahagiaan dan meraih cinta, menemukan dan menghargai arti cinta dan persahabatan.

4. Dare to be Urbanista – Dee Daveenaar. Harga Rp 15.000,-

Apa yang terpikirkan jika Anda berjumpa dengan sosok berbusana “office look” seba branded from head to toe baik lelaki maupun perempuan? Betulkah mereka merupakan sosok urbanista bergaya yang penuh daya?

5. Jatuhnya Sang Imam – Nawal el Saadawi. Harga Rp 15.000,-

Sebuah kisah tentang perjuangan dan perlawanan seorang anak perempuan yang lahir tanpa ayah.

6. Signora Da Vinci – Robin Maxwell. Harga Rp 30.000,- SOLD

Sebuah novel tentang pemberontakan ibunda Leonardo da Vinci.

7. The Vampire Diaries – L.J. Smith. Harga Rp 15.000,-

Setelah terkubur berabad-abad, dendam di antara vampir bersaudara itu kembali tersulut.

8. Nightmare Side #2 – Tim Nightmare Side Ardan. Harga Rp 15.000,-

Kumpulan pengalaman yang dijamin membuat bulu kudukmu merinding ketakutan.

9. 666 Misteri Paling Heboh – Tim Pustaka Horor. Harga Rp 15.000,-

Hantu-hantu Indonesia dan dunia, tempat-tempat paling menyeramkan, peristiwa-peristiwa paling menghebohkan, dan penampakan aneh UFO.

Bagi yang berminat bisa mention saya di twitter @nastiti_ds atau email nastiti.sandryanto@gmail.com. Komen di sini juga boleh. Harga belum termasuk ongkos kirim ya. Pengiriman dibatasi di wilayah Indonesia saja.

Happy shopping! 🙂

Jual Buku Koleksi Pribadi

Posted on Updated on

Halo Bookmania…

Dalam rangka mengurangi beban lemari buku di rumah, saya ingin menjual sebagian koleksi saya siapa tahu ada yang berminat. Semua buku dalam kondisi baik. Sampul tidak ada yang mengelupas, halaman juga tidak ada yang hilang atau robek. Satu dua buku kertasnya mulai menguning, namun tidak memengaruhi cetakan di dalamnya. Dan yang pasti harganya bersahabat banget dengan kantong Bookmania 😉

Here we go…

1. Mata Giok (The Eye of Jade) – Diane Wei Liang (SOLD)

Sebuah novel tentang Revolusi Kebudayaan dalam perspektif hari ini demi mencari kebenaran sejarah keluarga.

Harga: Rp10.000,-

2. Be My Sweet Darling – Queen Soraya (SOLD)

Harga: Rp8.000,-

3. Perempuan Mencari Tuhan – Dianing Widya Yudhistira (SOLD)

“Novel ini karya perenungan. Dapat dirasakan bahwa penulisnya menulis tidak hanya dengan pikiran tapi juga dengan perasaan” Habiburrahman El Shirazy

Harga: Rp10.000,-

4. Blue Surgeon – Abdul Mughni Rozy (SOLD)

Pengalaman seorang dokter bedah sejak pendidikan hingga di jalur Gaza.

Harga: Rp15.000,-

5. Berteman dengan Kematian – Sinta Ridwan (SOLD)

Catatan seorang gadis lupus.

Harga: Rp15.000,-

6. Iqra’ – Reza Nufa (SOLD)

Harga: Rp10.000,-

7. Des(c)ision – Almira Raharjani (SOLD)

Novel Amore Gramedia

Harga: Rp8000,-

8. The Journeys – Adhitya Mulya, Alexander Thian, Raditya Dika, Windy Ariestanty, dkk (SOLD)

Kisah perjalanan para pencerita.

Harga: Rp15.000,-

9. Kedai 1001 Mimpi – Valiant Budi (SOLD)

Kisah nyata seorang penulis yang menjadi TKI

Harga: Rp15.000,-

10. Taj – Timeri N. Murari (SOLD)

Tragedi di balik cinta abadi. Melanjutkan kesuksesan Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi karya John Shors.

Harga: Rp18.000,-

11. Negeri Van Oranje – Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana (SOLD)

Apa jadinya jika lima mahasiswa Indonesia di negeri Belanda terlibat dalam roman dan petualangan kocak?

Harga: Rp15.000,-

12. King Sulaiman & Queen Sheba – Waheeda El-Humayra (SOLD)

Kisah mengharukan tentang cinta, kesetiaan dan pengorbanan.

Harga: Rp15.000,-

13. Kimya Sang Putri Rumi – Muriel Maufroy (SOLD)

“Sangat unik karena untuk pertama kalinya Rumi ditampilkan dari sudut pandang perempuan” Muge N. Galin, PhD (Dosen Sastra Inggris Ohio State University)

Harga: Rp15.000,-

14. Style – Baek Young-ok (Peraih World Literary Award) (SOLD)

Ketika kepingan masa lalu menguak kalbu.

Harga: Rp18.000,-

15. Imperium – Robert Harris (No.1 International Bestselling Author) (SOLD)

Harga: Rp20.000,-

16. The Thorn Birds (Burung-Burung Semak Berduri) – Colleen McCullough (SOLD)

Kisah cinta yang memilukan, saga dahsyat mengenai perjuangan dan pengorbanan, pemuliaan kepribadian dan jiwa.

The #1 Bestseller

Harga: Rp20.000,-

Nah, kalau diantara 16 buku di atas ada yang diminati oleh Bookmania, boleh komen langsung di bawah postingan ini. Sebut buku yang diinginkan, dan jika masih tersedia saya akan meminta Bookmania untuk memberikan alamat pengiriman. Harga di atas belum termasuk ongkos kirim. Oya, pengiriman dibatasi di wilayah Indonesia tercinta saja ya 🙂

Pemesanan juga bisa melalui twitter (mention ke @nastiti_ds) atau email (nastiti.sandryanto@gmail.com).

Selamat memilih!

Jual Buku Koleksi Pribadi

“Always be in Your Heart” Sebuah Salam dari Timor Timur

Posted on Updated on

always be in your heartMeski belum menemukan alasan yang tepat, saya memercayai kalau urutan juara dalam sebuah lomba tidaklah menjadi penentu kualitas cerita sama sekali. Dan ini terbukti berkali-kali. Bahkan hingga hari ini, saat saya baru saja selesai membaca novel juara ke-3 Lomba Novel Qanita Romance yang satu ini. Novel berjudul Always be in Your Heart (Pulang ke Hatimu) saya baca selisih sehari saja setelah mengakhiri membaca novel juara ke-2 lomba yang sama. Membaca bab pertama buku ini untuk kesekian kalinya memberi saya bukti kebenaran kalimat pembuka yang saya tulis tadi.

Kisah dengan alur flashback ini dibuka dengan pemaparan singkat seekor anjing tentang perubahan yang terjadi pada diri tuannya. Bagian ini sudah memberi kesan ‘tidak biasa’ buat saya. Selain pembukaan yang memikat, kalimat yang digunakan dalam novel ini memberikan saya gambaran bahwa penulisnya adalah seorang yang mampu menggunakan diksi dengan baik. Kalimat demi kalimat dalam buku ini sangat mudah dinikmati. Tanpa perlu mengumbar metafora, selama membacanya, saya terkadang seperti sedang mendengar lantunan nada yang indah.

Timor Timur pra dan pasca referendum digunakan oleh pengarang sebagai latar kisah percintaan Marsela dan Juanito. Kisah cinta mereka terhalang oleh keputusan berbeda antara keduanya. Marsela yang mengikuti sang ayah untuk mengungsi dari Ermera (sebuah wilayah yang dikuasai Republik Timor Leste pasca referendum) karena memilih tetap berada di bawah naungan merah putih harus berpisah dengan Juanito yang bertekad mengembangkan ladang kopinya di Ermera apapun yang terjadi. Di hari ulang tahun Marsela, beberapa saat sebelum berpisah, Juanito memberikan hadiah dua ekor anjing bernama Lon dan Royo. Saat akhirnya berpisah, Lon turut bersama Marsela sedang Royo tetap tinggal di Ermera bersama Juanito. Adegan demi adegan dalam buku ini berjalan mulus. Narasi dan dialog memiliki porsi yang seimbang. Belum lagi deskripsi setting yang harus diakui memberi kekuatan sendiri dalam cerita ini. Minimnya jumlah tokoh dalam novel ini berhasil diramu perannya untuk makin memperkuat fokus cerita.

Namun demikian, ada dua hal yang kehadirannya ‘samar’ untuk saya dalam novel ini. Pertama, peran Lon dan Royo. Saya mengharapkan kedua anjing yang seperti diciptakan sebagai simbol dua hati yang terpisah itu mengambil peran lebih dari sekedar membuka dan menutup cerita. Kedua, keberadaan Randu yang sempat dekat dengan Marsela berakhir begitu saja saat Marsela merasa bahwa Randu melindunginya hanya untuk memenuhi pesan almarhum ayah Marsela untuk menjaganya.  Sementara hampir sepertiga cerita Randu terlihat begitu menaruh hati pada Marsela. Randu seolah ‘diselamatkan’ begitu saja saat Juanito hadir kembali di akhir cerita.

4 bintang dari 5 bintang yang tersedia untuk novel ini.

Akhir kata, to’o hasoru fali! (Baru tau kalau bahasa Timor yang itu artinya: sampai jumpa lagi!:))

Bye Timor…

Judul           : Always be in Your Heart (Pulang ke Hatimu)

Pengarang : Shabrina WS

Penerbit     : Qanita

Cetakan      : I, Februari 2013

Tebal           : 236 halaman

“Marginalia” dan Keunikan Sebuah Tema

Posted on Updated on

marginaliaMarginalia adalah judul novel pemenang kedua Lomba Novel Qanita Romance yang diselenggarakan penerbit Qanita pertengahan tahun 2012. Sebelum sempat membaca novel tersebut, beberapa teman telah membicarakan keunikan tema yang diangkat. Saya sendiri belum pernah mendengar kata Marginalia. Apalagi mengetahui artinya. Ketidaktahuan itu kemudian menjadi salah satu sebab saya percaya bahwa tema yang diangkat dalam novel ini memang unik.

Penasaran dengan isinya, sepulang dari menghadiri peluncuran ketiga pemenang lomba novel tersebut, saya langsung membuka dan membacanya. Setiap membaca sebuah novel fiksi, saya selalu berusaha untuk tidak terpengaruh terlebih dahulu pada segala hal yang membuat pandangan pembaca menjadi subjektif. Misalnya, bulrb yang selalu disusun semenarik mungkin, cover buku, endorsement penulis terkenal (bila ada).

Dari novel tersebut saya kemudian mengetahui bahwa Marginalia adalah catatan pinggir yang ditulis di sebuah buku. Perang pendapat dalam wujud marginalia menjadi awal pertemuan Drupadi dan Aruna yang kemudian bergulir menjadi sebuah kisah percintaan. Ide yang sangat menggelitik menurut saya untuk dijadikan sebuah awal pertemuan. Dan jangan disangka kedua tokoh utama yang berperang marginalia tersebut menyukai buku. Mereka justru melakukannya secara tidak disengaja. Ketidaksengajaan tersebut kemudian dikaitkan oleh semacam keyakinan sang pemilik perpustakaan (Gandi dan Sonya) bahwa sebuah marginalia dapat membawa keajaiban tersendiri. Sampai dengan ide tentang keterkaitan marginalia terhadap tokoh-tokohnya, sungguh saya kagum dengan kepiawaian pengarang.

Dari keseluruhan aspek yang mendukung sebuah karya fiksi, tema memang menjadi salah satu hal yang sangat menentukan penilaian pembaca terhadap karya tersebut. Meski harus saya akui, setting dalam buku ini terasa lemah belum lagi bila mengingat beberapa hubungan sebab akibat yang terlewat di sana sini. Tidak ada petunjuk yang pasti kisah ini bergulir pada tahun berapa. Twitter dan facebook tentu tidak dapat diharapkan menjadi petunjuk mengingat kedua sosial media tersebut telah lebih dari 6 tahun digunakan secara aktif oleh muda mudi di Indonesia. Kisah dengan setting tempat dan waktu yang kuat dengan mudah akan menyeret pembaca untuk masuk dan menikmati setiap adegan dengan mudah. Sementara pergantian adegan demi adegan dalam kisah ini masih terasa mengambang. Pembaca seperti saya kesulitan memahami bagaimana seorang wedding organizer tidak mengenal penyanyi rock yang sedang hits saat itu. Belum lagi penyanyi rock tersebut dengan mudah dapat menjadi wedding singer pengganti dalam sebuah acara pernikahan tanpa diketahui oleh pemilik wedding organizernya (sementara kapasitas usaha wedding organizer tersebut tidak digambarkan dengan jelas). Setting waktu yang kuat sangat diperlukan untuk memberikan gambaran kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam sebuah kisah. Tanpanya, pembaca akan menemukan banyak hal sebagai sebuah keganjilan di dalamnya.

Saya memberikan 3 bintang dari 5 bintang yang disediakan untuk novel ini. Bintang pertama untuk tema dan pengembangan konflik secara garis besar, bintang kedua untuk pemilihan nama tokoh-tokohnya, dan bintang ketiga untuk penyajian cerita dengan sudut pandang orang pertama yang berganti-ganti dari Drupadi ke Aruna namun tetap konsisten di karakter masing-masing.

Judul                     : Marginalia

Pengarang          : Dyah Rinni

Penerbit              : Qanita

Tebal                     : 304 hal

Cetakan               : I, Februari 2013

Peri Dalam “Celoteh Perempuan”

Posted on

Saya Writing Workshop Addicted. Yes, it is so true! Banyak hal saya dapat dari kegiatan tersebut. Pertama, jalan-jalan ke luar rumah pastinya. Kemudian bertemu banyak teman baru yang dengan senang hati saling berbagi pengalaman dalam menulis, dan yang terakhir tentunya adalah materi dalam workshop itu sendiri.

celoteh perempuan

Kumpulan cerpen berjudul Celoteh Perempuan ini adalah buku kumpulan pekerjaan rumah para peserta sebuah workshop menulis yang saya ikuti. Tentunya setelah diseleksi terlebih dahulu. Yang membahagiakan buat saya dengan terbitnya buku ini adalah, dimuatnya cerpen fantasi pertama saya! Fantasi adalah sebuah genre yang tanpa saya sadari telah saya sukai begitu saja (maaf kalau kalimatnya agak aneh tapi seperti itulah gambaran singkatnya). Mungkin karena saya sering nonton film kartun, juga tanpa sengaja. Diawali dari menemani kedua anak saya nonton kartun Disney sembari menghabiskan makan pagi dan siangnya, kemudian menjadi sesuatu yang membuat saya ketagihan.

Cerpen saya yang berjudul Peri Hujan dalam kumpulan cerpen ini tidak selalu benar bila disebut sebagai cerpen fantasi saya yang pertama (kalimat aneh kedua). Saya pernah menulis beberapa cerpen dengan tokoh binatang. Ide-ide cerpen dengan tokoh binatang biasanya muncul begitu saja saat salah seorang anak saya memperlihatkan ketertarikan yang demikian besar pada kehidupan hewan tertentu ataupun fenomena alam yang berhubungan dengan kehidupan hewan. Jadi, mungkin yang benar adalah, cerpen Peri Hujan adalah cerpen genre fantasi-dewasa-tidak-bertokoh-binatang pertama saya. Makin ribet.

Bahagia itu sederhana, melihat buku yang berisi tulisan hasil karya sendiri mejeng di rak depan toko buku. Demikianlah status yang saya posting di dinding facebook tidak lama setelah pengambilan foto yang sekarang nampak di hadapan anda. Buku yang sudah jadi dan siap dibaca memang bukti konkret penyebab munculnya rasa bahagia. Namun, di luar itu, saya menyimpan dua kebahagiaan yang tidak nampak. Yaitu kenyataan bahwa Peri Hujan dinobatkan sebagai satu dari dua cerpen terbaik di minggu ke-3 workshop, dan bahwa saya menuliskan kelanjutan cerpen tersebut sehingga menjadi semacam cerpen bersambung. Cerpen fantasi bersambung ini terbukti sangat membantu disaat saya mengalami kebuntuan menulis kisah-kisah non fantasi. Menumpuk beragam sampah tulisan tentang peri berbaju biru, berwajah sayu, dan sedang menjalani masa hukuman di balik jeruji membuat saya terlepas dari beban menulis. Siapa tau, siapa tau ya, suatu saat layak dikumpulkan untuk dijadikan cerita yang menarik.

Salam semangat menulis dari saya dan Peri Hujan untuk teman-teman semua!