Sesi 5 – Pelatihan Menulis Skenario

Penutup rangkaian acara Wordisme kali ini adalah sebuah acara yang berisi uraian tentang penulisan skenario film. 3 orang penulis skenario negeri ini ditampilkan sebagai narasumber. Mereka adalah : Salman Aristo (penulis skenario film Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan juga Sang Penari), Alexander Thian (penulis skenario beberapa sinetron) dan Aditya Gumay (penulis skenario film Emak Ingin Naik Haji).

Masing-masing narasumber menceritakan pengalamannya dalam menulis skenario yang sekiranya dapat menjadi bekal bagi peserta Wordisme.

Alexander Thian menguraikan bahwa daya tahan terhadap pressure kerja sangat diperlukan oleh seorang penulis skenario. Pengalamannya menulis skenario sinetron kejar tayang memberinya pengalaman untuk merevisi adegan berikut pemeran didalamnya hanya dalam waktu beberapa jam saja sebelum syuting dimulai karena salah satu pemeran utama sinetron tersebut sakit dan tidak dapat syuting. Sejumlah adegan dimana sang pemeran utama itu seharusnya hadir mesti ditulis ulang.
Selain itu, Alexander Thian juga mengungkapkan kesulitannya untuk membentuk karakter dan alur cerita yang bermutu dan edukatif untuk dicerna oleh penonton karena tuntutan produser yang tentunya menghendaki sinetron tersebut laku dipasaran.

Aditya Gumay, penulis skenario film yang juga aktif berkecimpung didunia anak-anak ini mengajak seluruh peserta untuk tidak menyerah begitu saja pada tayangan film atau sinetron yang tidak bermutu. Diuraikan olehnya bahwa pengukuran rating sebuah acara yang dijadikan tolok ukur produksi sinetron pada khususnya sebenarnya hanya dilakukan dibeberapa kota dengan responden yang menurutnya kurang representatif.
Di acara tersebut ia juga menuturkan pengalaman menariknya menggarap film Emak Ingin Naik Haji yang akhirnya laku keras dipasaran. Ia meyakini bahwa film-film bermutu mempunyai pangsa yang besar di negeri ini.
Pengalamannya berkenalan dengan seorang penulis skenario cilik pemenang sebuah penghargaan penulisan skenario untuk film pendek diceritakan untuk memberikan gambaran singkat betapa di negeri ini bertebaran penulis-penulis skenario berbakat yang perlu terus diasah kemampuannya.

Salman Aristo, di sesi ini membagi pengetahuannya secara ringkas tentang perbedaan story telling cerpen/novel dengan gambar (film).
Menurutnya, yang paling penting dalam penulisan skenario film adalah interaksi antara karakter dan plot. Karena interaksi itulah yang sangat menentukan keberhasilan sebuah tayangan audio visual yang mana tidak terdapat dalam cerpen dan novel.
Dalam mengadaptasi sebuah novel menjadi film, menurut pengalamannya, film yang dihasilkan akan berbeda dengan novel yang diadaptasi dalam beberapa hal. Ini terjadi karena tuntutan tayangan audio visual tadi.

Ketiga penulis skenario ini menggarisbawahi bahwa saat seorang ingin menulis sebuah skenario, ia mesti membayangkan sebuah layar dihadapannya yang berisi adegan-adegan untuk kemudian di tulisnya agar pada saat diperankan, adegan tersebut hidup dan dapat dinikmati oleh penonton.

Jakarta, 7 Desember 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s